Menteri BUMN, Erick Thohir

Menteri BUMN, Erick Thohir

BUMN Punya Utang Rp1.500 Triliun, Erick Thohir Sebut Masih Sehat

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki utang konsolidasi mencapai Rp1.500 triliun. Meski demikian, Menteri BUMN Erick Thohir menilai bahwa jumlah utang tersebut masih sehat dibandingkan dengan kinerja BUMN itu sendiri. Erick juga mengacu pada nilai investasi yang didapatkan BUMN.

"Ada persepsi yang kemarin bilang BUMN ini banyak utang, kita selalu sudah persentasikan total utang BUMN yang memang kita bandingkan dengan investasi. Kita bandingkan investasi itu total utang Rp1.500 triliun dan modal yang investasi itu mencapai Rp4.200 triliun," ujar Erick dalam Konferensi Pers Kinerja Portofolio BUMN di Kementerian BUMN, Rabu (28/9/2022) dilansir dari Kumparan.

Melihat hal itu, ia merasa keadaan BUMN tergolong masih dalam kondisi yang sehat. "Probabilitas perbandingannya itu kira-kira 35 persen antara utang dengan tentunya equity. Artinya juga kembali sehat," kata dia.

Pendapatan BUMN 2021 Tembus Rp2.292,5 T

Kendati nominal utang yang besar, pendapatan BUMN di 2021 justru tembus di angka Rp2.292,5 triliun atau naik 18,8 persen dari 2020 yang hanya Rp1.929 triliun.

Erick Thohir mengatakan, pendapatan konsolidasi 2021 itu didorong oleh pertumbuhan harga komoditas global, peningkatan penjualan akibat pemulihan ekonomi dari pandemi Covid-19. Pun peningkatan ini juga terjadi di beberapa klaster.

Sementara, Deputi Bidang Keuangan dan Manajemen Risiko Kementerian BUMN, Nawal Nely, menjelaskan pendapatan ini tumbuh dari klaster energi. Sebab peningkatan volume penjualan di 2020 secara keseluruhan mengalami penurunan akibat lockdown.

Selanjutnya, klaster farmasi turut mendukung pendapatan BUMN dengan penjualan vaksin yang sangat besar di tahun 2021 demi mendukung program pemerintah dalam pemulihan setelah dihantam COVID-19.

Selain itu juga klaster mineral dan batu bara (minerba) yang mengalami peningkatan harga komoditas, serta peningkatan volume penjualan.

"Kontributor untuk revenue energi, pada sektor farmasi penjualan meningkat besar dan dari sektor minerba Mind ID, karena harga komoditas meningkat," kata Nawal Nely.