Santi Warastuti dan putrinya, Pika (kiri) menyerukan legalisasi ganja medis pada acara Car Free Day di Jakarta, Minggu (26/06) | Foto Kompas.com

Santi Warastuti dan putrinya, Pika (kiri) menyerukan legalisasi ganja medis pada acara Car Free Day di Jakarta, Minggu (26/06) | Foto Kompas.com

Soal Upaya Legalisasi Ganja Medis di Indonesia, Begini Penjelasan IDI

Foto Santi Warastuti memegang papan bertuliskan "Tolong, anakku butuh ganja medis" saat acara car free day di Bundaran HI, Jakarta Pusat, akhir pekan lalu menjadi viral. Dalam foto itu, Santi nampak berdiri di samping putrinya, Pika, yang duduk di kursi roda.

Perempuan tersebut menyeru supaya Mahkamah Konstitusi (MK) segera memberikan putusan dalam upaya uji materi UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika yang dilayangkan olehnya serta sejumlah orang tua pasien cerebral palsy dan lembaga swadaya masyarakat.

Uji materi yang diajukan pada November 2020 itu bertujuan supaya Narkotika Golongan I, termasuk ganja, dapat digunakan untuk kepentingan penelitian dan pelayanan kesehatan atau terapi.

"Tolong angkat kekuatiran saya ... Beri saya kepastian. Beri kami kepastian," tulis Santi dalam surat terbuka kepada MK yang juga tersebar di media sosial.

Hingga saat ini, penggunaan ganja untuk pengobatan dilarang di Indonesia. Hak tersebut disampaikan oleh Ketua Dewan Pertimbangan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB-IDI) Zubairi Djoerban.

Ia mengatakan, jika berkaca dari Amerika Serikat, penggunaan ganja untuk medis dibatasi dan diatur secara ketat.

"Jadi sebetulnya sudah ada obat untuk masing-masing penyakit seperti, epilepsi dan lainnya itu, namun ganja medis bisa menjadi pilihan, tapi bukan yang terbaik," kata Zubairi, Rabu (29/6/2022) dikutip dari Kompas.com.

Zubairi mengatakan, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) baru mengeluarkan izin penggunaan ganja untuk pasien epilepsi dengan kejang. Namun, kata dia, kasus tersebut jarang terjadi.

Sementara itu, menurutnya, penggunaan ganja bagian THC dan Delta-8-THC dilaporkan memiliki banyak efek samping sehingga direkomendasikan untuk dihindari.

"Produk delta ini sering terkait dengan bahan kimia, yang ternyata jelek untuk kesehatan, memang banyak laporannya," ujar dia.

Zubairi mengatakan, terkait dengan anak yang menderita cerebral palsy, anak tersebut tetap harus ditolong semaksimal mungkin.

"Anak yang cerebral palsy harus ditolong semaksimal mungkin dan itu caranya dengan dibahas khusus oleh para ahli yang terkait dengan itu, neorologi anak semuanya yang terkait dengan cerebral palsy untuk kemudian rekomendasinya apa," ucap dia.