Ilustrasi Kilas Balik NTT 2021

Ilustrasi Kilas Balik NTT 2021

Kilas Balik NTT 2021: dari Seroja hingga Pembunuhan Ibu dan Anak

Kinerja Pemerintah Provinsi (Pemprov) benar-benar teruji akibat beragam peristiwa yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) selama tahun 2021.

Dua peristiwa besar yang paling jadi sorotan adalah bencana siklon tropis seroja atau badai seroja yang melanda sejumlah wilayah di NTT, juga pembunuhan ibu dan anak di Kupang. Awal bulan keempat 2021, tepatnya tanggal 4 April-7 April NTT dihantam badai Seroja.

Setidaknya ada sejumlah wilayah yang diterpa bencana itu. Mulai dari Ibu Kota NTT yakni Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Kabupaten Malaka, Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Lembata, Kabupaten Alor, Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Sabu Raijua, Kabupaten Timur Timur (NTT), dan sejumlah wilayah lainnya.

18 April 2021, tepat dua pekan pasca badai seroja dan banjir bandang, Pemprov mengumumkan, sebanyak 181 orang dinyatakan meninggal dunia akibat bencana di NTT. 226 orang pun mengalami luka-luka dan sebanyak 48 orang dilaporkan hilang.

Tak hanya itu, puluhan ribu rumah warga terendam banjir, tertimpa longsor, atap-atap rumah pun rusak dan terbawa angin kencang. Tercatat, sebanyak 15.201 rumah warga mengalami rusak berat. 11.589 rumah rusak sedang dan sebanyak 47.839 rumah mengalami kerusakan ringan.

Bahkan pasar tradisional, sawah dan ladang ikut terendam banjir. Daya beli masyarakat menurut. Ekonomi NTT morat-marit. Hal ini menyita perhatian publik NTT. Pemprov jadi Sorotan.

Tiga hari usai badai hebat, tepatnya 7 April 2021, Thomas Bangke yang menjabat sebagai Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT waktu itu dipecat oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL).

Pasalnya, Thomas Bangke dinilai lamban dan tidak cekatan dalam menangani bencana alam yang terjadi di NTT. Bahkan sosok itu tidak terlihat di tengah masyarakat yang dilanda bencana. VBL pun menunjuk Kepala Dinas Perhubungan NTT, Isyak Nuka sebagai Pelaksana Tugas (PLT) Kepala BPBD NTT.

Terlepas dari semua itu, badai seroja sesungguhnya telah melahirkan rasa empati yang tinggi dari seluruh lapisan masyarakat. Beragam lembaga masyarakat membuka donasi bagi para korban terdampak badai. Tidak sedikit orang juga yang memberi diri sebagai relawan hingga terjun langsung ke lokasi bencana.

Badai ini melahirkan rasa empati dari berbagai pihak di luar NTT. Baik dari berbagai lembaga, tokoh-tokoh besar di Indonesia, dan juga masyarakat biasa. Berbagai perusahaan besar juga rasanya tidak menutup mata terhadap bencana yang terjadi. Banyak bantuan pun mengalir bagi korban bencana alam di NTT.

Ad
Di samping itu, masyarakat NTT juga berhasil merasa lebih lega ketika PT PLN (Persero) mengirim ratusan personilnya dari luar NTT untuk memulihkan kelistrikan di NTT pasca badai seroja.

Bertolak dari seroja, publik NTT dihebohkan dengan penemuan mayat ibu dan anak di lokasi proyek SPAM Kali Dendeng, RT 01 RW 01 Kelurahan Penkase Oeleta, Kecamatan Alak, Kota Kupang, pada Sabtu 30 Oktober 2021.

Kedua mayat itu pertama kali ditemukan dalam kantong plastik oleh Obet Nego Benu (29), operator eksavator yang sedang mengerjakan penggalian tanah.

Selanjutnya Obet menghentikan pekerjaan dan menghubungi Penanggung Jawab Proyek, Feri dan melaporkan ke Polsek Alak.

Selanjutnya, kasus tersebut ditangani oleh Polda NTT.  Ditreskrimum Polda NTT sudah membentuk Tim Terpadu untuk mengungkap identitas serta penyebab kematian ibu dan bayi laki-laki.

Misteri temuan mayat ibu dan anak itu akhirnya terjawab setelah hasil tes DNA keluar pada 25 November 2021.

Identitas keduanya pun terkuak. Mayat itu adalah Astri Evita Suprini Manafe (30) dan anaknya Lael (1 tahun).

2 Desember 2021, publik NTT digemparkan dengan seorang pria yang menyerahkan diri ke Polda NTT dan mengaku sebagai pelaku tunggal pembunuhan ibu dan anak itu. Ialah RB alias Randi Badjideh.

Ia lantas dijerat Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun penjara.

Publik pun geram. Grup-grup media sosial heboh dan tak percaya, menolak pengakuan Randy sebagai pelaku tunggal. Bahkan menuntut Randy dihukum mati.

Tak sampai disitu, netizen NTT bahkan ramai-ramai membanjiri akun media sosial milik pengacara kondang, Hotman Paris Hutapea.

18 Desember 2021, di tengah-tengah kegemparan itu, Irjen Pol Drs. Lotharia Latif yang menjabat sebagai Kapolda NTT waktu itu malah dimutasi.

Pergeseran Kapolda NTT ini kembali menjadi perhatian dan perbincangan publik serta warganet. Pasalnya Kepolisian Daerah NTT sedang melakukan tugas penyidikan dan membongkar kasus pembunuhan sadis ibu dan anak, Astrid Manafe dan Lael Maccabe.

21 Desember 2021, Penyidik Polda NTT bersama Polsek Alak dan Polres Kupang Kota, menggelar reka ulang atau rekonstruksi kasus pembunuhan tersebut.

Namun, Adhitya Nasution sebagai kuasa hukum keluarga korban pembunuhan ibu dan anak di Kupang itu mengatakan bahwa masih ada banyak kejanggalan dalam rekonstruksi itu.

Pihaknya meyakini bahwa ada unsur perencanaan dalam kasus pembunuhan yang memakan nyawa Astrid-Lael ini. Sehingga Tersangka RB bisa dijerat pasal 340 KUHP.

Yance Mesah selaku kuasa hukum RB alias Randi Bhajide, tersangka pembunuhan ibu dan anak di Kupang mengatakan, rekonstruksi yang sudah digelar telah sesuai  dengan bukti dan keterangan saksi.

Hingga kini, berbagi aliansi masyarakat dan aktivis pejuang kemanusiaan menggelar aksi di depan Polda NTT untuk menuntut keadilan bagi korban pembunuhan ibu dan anak ini.

Setidaknya, dua peristiwa ini membuktikan empati tinggi antar-masyarakat di NTT. Dua peristiwa ini juga menuntut keadilan dari pemerintah provinsi NTT bagi nilai kemanusiaan.