Menakar Nasionalisme BJ Habibie dan Prabowo Subianto VS Pengakuan Cinta NKRI oleh Orient P. Riwu Kore

Nasionalisme serta pengabdian bagi bangsa dan negara adalah alasan utama Presiden ke III Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie dan Menteri Pertahanan Indonesia era Kabinet Indonesia Maju jilid II, Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto menolak tawaran menjadi warga negara lain.

Tawaran yang dilakukan oleh Jerman kepada BJ Habibie untuk menjadi warga negara kehormatan ditolak beliau. Sebagai gantinya, Jerman  kemudian membebaskan Habibie tinggal di sana dalam waktu yang diinginkan beliau. Dalam buku Habibie dan Ainun, Habibie mengungkapkan betapa besar cintanya kepada Indonesia. Dengan tegas beliau mengungkapkan, “sekalipun menjadi Warga Negara Jerman, kalau suatu saat Tanah Air-ku memanggil, maka paspor (Jerman) akan saya robek dan akan pulang ke Indonesia. Selain Jerman, diketahui Habibie juga pernah ditawari menjadi warga Negara Filipina namun ditolaknya.

Cerita yang sama pernah dialami Menteri Pertahanan saat ini, Prabowo Subianto. Pasca lengsernya Presiden Soeharto, Prabowo tersudut dan harus mengasingkan diri ke Jordania. Prabowo yang saat itu seperti “tanpa warga negara” menolak tawaran menjadi Warga Negara Jordania. Padahal sahabatnya, Pangeran Abdullah menawarkan jabatan penasehat keamanan kepadanya. Hal ini Prabowo lakukan karena tidak ingin kehilangan status Warga Negara Indonesia.

Nasionalisme hadir di tengah tawaran menggiurkan. Nasionalisme hadir meskipun situasi dan kondisi menghimpit. Nasionalisme hanya bisa diwujudkan dengan tindakan nyata. Inilah pembelajaran berharga bagi setiap Warga Negara Indonesia dari dua sosok tokoh yang dalam perjalanan hidupnya pernah juga pada posisi tidak menguntungkan ketika berada di negara sendiri. Habibie pernah ditolak idenya terkait Kedirgantaraan, sementara Prabowo terjepit pasca 1998.

Awal Bulan Februari 2021, Indonesia digegerkan dengan diterimanya surat balasan dari Kedutaan Besar Amerika kepada Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu). Isi surat tersebut menjelaskan bahwa calon Bupati yang memenangkan Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Sabu Raijua adalah benar Warga Negara Amerika. Seketika pembicaraan terkait sosok yang bersangkutan menjadi buah bibir dan trending topik nasional.

Orient  Patriot Riwu Kore, nama yang seketika menjadi pembahasan media massa setanah air. Status kewarganegaraannya kemudian dipertanyakan hingga akhirnya yang bersangkutan muncul dalam video berdurasi 6,52 menit. Dalam videp tersebut, secara garis besar menyatakan bahwa dirinya masih berstatus sebagai Warga Negara Indonesia dan mengakui bahwa pernah mempunyai Paspor Amerika. Dirinya pernah mempunyai Paspor Amerika untuk kepentingan pekerjaan, namun masih pula dalam proses pencabutan kewarganegaraan asing (Amerika).

Masih menurut pengakuan dalam video tersebut, Orient pulang ke Indonesia khususnya ke Sabu Raijua  sebagai bentuk kecintaannya kepada daerah asal leluhur dan sebagai bentuk mewujudkan amanah orangtua untuk membangun daerah asal. Kecintaan Orient kepada Kabupaten Sabu Raijua seperti yang diungkapnya adalah bentuk dari kecintaannya kepada Indonesia. Kedua hal ini tidak bisa dipisahkan karena Kabupaten Sabu Raijua adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tujuan mulia Orient patut diapresiasi. Kecintaannya kepada tanah leluhur menghantarnya untuk pulang dengan konsekuensi meninggalkan semua kenyamanan kehidupan di Amerika. Kehidupan yang sangat kontras manakala harus membandingkan Amerika dan Sabu Raijua.

Berbicara tentang Kabupaten Sabu Raijua maka berbicara pula tentang catatan-catatan hitam yang melekat pada daerah tersebut. Bupati Pertama tersandung Kasus Korupsi sehingga ditahan KPK, isu Dana Bansos yang tidak kunjung terselesaikan, APBD yang makin menurun, isu Proyek Mangkrak yang menjadi santapan isu saat Perhelatan Pemilihan Kepala Daerah tahun 2020, hingga indeks kehidupan yang rendah, dimana Kabupaten Sabu Raijua adalah salah satu kabupaten tertinggal berdasarkan Perpres No. 63 Tahun 2020. Di sisi lain daerah yang dikenal dengan Gula Sabu-nya, berbagai tempat wisata seperti Grand Canyon Kalabba Maja, atau pun produksi garam dan rumput laut dengan kualitas terbaik serta berbagai hal lain sudah sepantasnya membawa masyarakat Sabu Raijua keluar dari zona kemiskinan.

Dorongan moril (sesuai ungkapan Orient pada Video) menghantarnya pulang kampung. Dorongan yang begitu kuat dari seorang yang telah menikmati hidup yang bergelimang (diungkapkan melalui tulisan media) dan  dengan harta Rp. 33 Meliar (LHKPN) harusnya sudah cukup untuk Orient menikmati hidup di Amerika. Dengan alasan ini sekali lagi patut kita apresiasi.

Kecintaan Orient kepada Indonesia menjadi cacat ketika dirinya mengakui memiliki Paspor Amerika sebab dalam Pasal 23 huruf H UU Kewarganegaraan, salah satu hal yang membuat seorang WNI kehilangan kewarganegaraannya adalah karena memiliki paspor lain. Sebagaimana diatur pula dalam PP no. 2 Tahun 2007, Pasal 31 ayat (1) huruf g, di Indonesia tidak mengakui adanya kewarganegaraan ganda sehingga ungkapan kecintaannya kepada Sabu Raijua (Indonesia) menjadi tidak bernilai.

Ungkapan cinta harus dibuktikan dengan tindakan manakala ungkapan tidak lagi sesuai dengan tindakan, ungkapan itu akan terasa hambar. Ungkapan cinta Orient terasa sangat hambar jika dibandingan dengan Habibie dan Prabowo. Ungkapan cinta Orient dipatahkan oleh pengakuan dirinya sendiri bahwa dirinya pernah mengurus dan memiliki paspor Amerika berbeda dengan Habibie dan Prabowo yang meskipun ditawari kewarganegaraan namun mereka tetap menolak.

Jika berkaca dari kasus ini, maka Nasionalisme Orient sangat dipertanyakan. Sementara Nasionalisme Habibie dan Prabowo pantas ditiru. Ini fakta yang tidak bisa dibantahkan dengan alibi apapun.